Categories
News

Mendeteksi Preeklamsia Sejak Dini Bag6

Penelitian disertasi ini membawa Didi meraih gelar doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, bulan lalu. Ada dua jenis preeklamsia, yakni preeklamsia dini dan lanjut. Batasnya adalah usia kehamilan 34 pekan. Jika terjadi setelah usia kehamilan 34 pekan, dikategorikan preeklamsia lanjut. Sedangkan jika terjadi sebelum usia kehamilan 34 pekan, masuk preeklamsia dini. ”Sekitar 60 persen preeklamsia terjadi di bawah umur 34 minggu,” ujar Didi.

Ada perbedaan faktor penyebab keduanya. Preeklamsia lanjut terjadi karena masalah pada ibu, misalnya akibat kegemukan, diabetes, dan kadar kolesterol tinggi. Sedangkan preeklamsia dini terjadi karena masalah plasenta alias ari-ari yang tak tertanam dengan sempurna di rahim. Plasenta adalah organ yang menghubungkan suplai darah ibu hamil dengan suplai darah janin yang dikandungnya.

Categories
Parenting

Memuji Si Kecil Dengan Bijak Bag2

Boleh jadi mungkin kita tak pernah mengungkapkan langsung pada anak, tetapi anak dapat membaca, lo, sikap dan bahasa non-verbal kita tentang dirinya, atau bagaimana betapa bangganya kita membicarakan anak di hadapan orang lain. Di satu sisi, kita berharap pujian itu bisa memotivasi anak agar bersikap lebih baik, tetapi di sisi lain ternyata pujian itu bisa menjadi bumerang baginya, ibarat pedang bermata dua.

Baca juga : tes toefl Jakarta

Psikolog Insan Firdaus menjelaskan, pada saat anak lahir ia membawa gen keturunan dari orangtuanya. Gen tersebut memengaruhi perilaku anak hanya 1 sampai 2 persen saja. “Yang akan memengaruhi terbentuknya kepribadian anak adalah pembelajaran yang ia tangkap dari lingkung an se kitarnya,” papar Insan. Pembelajaran dari lingkungan itu akan disimpan anak ke memorinya, sesuai perkembangan otaknya saat itu.

Pada usia 2 tahun, neuron di otak anak berjumlah sekitar 100 milyar, sehingga pada usia ini anak lebih cepat menyerap apa yang dilihat dan dipelajarinya. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam bertindak dan mengajari si kecil, termasuk soal memberikan pujian padanya. Menginjak usia prasekolah, otak yang bertanggung jawab pada emosi anak sedang berkembang.

Maka kita perlu melatih anak agar emosinya berkembang baik, sehingga kelak ia mampu mengelola emosinya. Memuji anak merupakan hal yang baik untuk dilakukan, serta bisa mendorong tumbuhnya harga diri dan rasa percaya diri anak. “Namun, perilaku memuji harus bersifat rasional, jangan memuji dengan emosional,” jelas Insan. Contohnya, anak mengikuti suatu lomba, lalu kalah. Karena kita khawatir anak sedih atau kecewa, kita pun berkata, “Sebenarnya sih menurut Papa gambarmu lebih bagus lo, daripada yang menang. Seharusnya kamu itu menang.”

Bahkan, sengaja membelikan piala supaya anak tidak sedih berkepanjangan. Memuji pun harus bertujuan, bukan asal memuji anak pintar, cantik, ganteng, anak pa ling hebat, dst. Kalau hanya asal memuji seperti itu, akhirnya pujian hanya menjadi label. Begitu pula pujian yang dilakukan saat anak kecewa atau sedih, bisa jadi itu adalah jurus menghibur ketika kita tak tega melihat anak sedih. Padahal, anak perlu belajar menghadapi perasaan sedih dan kecewa.

Sumber : pascal-edu.com