Categories
Blog

Mudah, Ini 4 Perbedaan Kucing Anggora dan Persia

Bagi orang awam membedakan kucing anggora dan persia bukanlah hal yang mudah, karena sekilas kedua kucing tersebut memiliki kemiripan. Lain halnya bagi pecinta kucing.

mereka sangat hafal dengan ciri dan karakteristik kedua jenis kucing tersebut.

Jika Anda ingin memelihara kucing tetapi masih bingung untuk memilih kucing jenis apa yang akan Anda pelihara, Anda dapat menyimak perbedaan kucing anggora dan persia di bawah ini.

1. Perbedaan pada bentuk wajah

Kucing anggora dan persia memiliki bentuk wajah yang berbeda. Kucing anggora memiliki bentuk wajah yang mirip dengan kucing lokal seperti wajah berbentuk segitiga, memiliki hidung yang agak mancung, Telinga agak memanjang dan berbentuk runcing serta terdapat bulu halus pada ujung telinganya.

Sedangkan kucing persia memiliki bentuk wajah bulat, hidung yang pesek, serta bentuk dahi, hidung dan dagu tampak datar. Dari segi matanya, kucing persia memiliki mata yang banyak variasinya jika dibandingkan dengan kucing anggora.

2. Perbedaan pada bentuk kaki

Kucing anggora memiliki kaki yang lebih panjang dibandingkan dengan kucing persia. Kaki pendek yang dimiliki kucing persia membuat kucing tersebut telihat lebih menggemaskan.

3. Perbedaan pada bulu kucing

Perbedaa kucing anggora dan persia dapat dilihat dari bulunya. Kucing anggora memiliki bulu yang lumayan tebal, khususnya pada bagian wajah dan ekornya. Sedangkan kucing persia memiliki kaki yang pendek dan imut.

4. Perbedaan pada bentuk tubuh

Perbedaan kucing anggora dan persia dapat juga dilihat dari bentuk tubuh kedua jenis kucing tersebut. Kucing anggora memiliki tubuh yang langsing dengan otot yang tidak menonjol serta terlihat lebih tinggi. Bisa dikatakan bentuk tubuh kucing anggora terlihat ideal.

Sedangkan kucing persia bertubuh lebih gemuk dan bulat serta tidak lebih tinggi jika dibandingkan dengan kucing anggora.

Categories
Blog

Titik Balik Djokovic Bag2

Dia selalu gagal sepanjang paruh pertama musim ini. Petenis Serbia berusia 31 tahun itu harus berju ang habis-habisan untuk bangkit. Usahanya belum membuahkan hasil, ter masuk mengalami tiga kekalahan beruntun oleh Chung Hyeon, Taro Daniel, dan Benoit Paire di rika Serikat Terbuka, Djokovic mengalahkan petenis Argentina, Juan Martin del Potro. Itu adalah kemenangan Djokovic atas Del Potro sebanyak 15 kali, ter masuk lima kali di Grand Slam. Bermain di babak final kedelapan kalinya di New York dan sudah menjadi juara pada 2011 dan 2015, ini menjadi modal kuat baginya bermain gemilang di lapangan keras.

“Saya tidak bisa berbohong ada banyak momen ketika saya ragu, ketika saya tidak tahu apakah saya bisa bermain di level tertinggi, bersaing untuk Grand Slam dengan orang-orang ini,” kata Djokovic. Kini, Djokovic telah menyamakan rekornya dengan petenis legendaris Pete Sampras dengan mera ih gelar juara Grand Slam 14 kali. “Aku ingin menga takan, Pete, aku mencintai mu. Kamu idola saya,” kata Djokovic. Koleksi gelar juara Grand Slam Djokovic juga semakin mendekati dua rivalnya, Rafael Nadal dan Roger Federer. Nadal telah menggenggam 17 gelar dan Federer telah genap 20 gelar Grand Slam.

Categories
Blog

Pantai Babel, Gadis Cantik yang Terlupakan

Menumpangi ‘taksi’, kami menyusur jalanan aspal tepi pantai di mana terlihat nyiur melambai berlatarbelakang laut biru turqouise yang warnanya makin menggelap di kejauhan. Panorama apik ini tersaji dalam perjalanan ke luar kota Tanjungpandan menuju Tanjung Tinggi di bagian utara Belitung, Provinsi Bangka Belitung alias Babel. Jangan bayangkan sebutan taksi tadi ditujukan buat sedan ber-aircon seperti laiknya terdapat di kota-kota besar. Sebutan ini diberikan pada mobil jenis family car yang siap mengantar penumpang dari bandara menuju pantai-pantai indah di seluruh penjuru pulau. Harganya sudah fixed, kisaran Rp 100.000-150.000 per orang, sekali jalan. Tapi sebagai catatan, kami cuma menggunakan jasa taksi ini saat datang di bandara Hananjuddin dan pada waktu kepulangan.

Karena udara pantai-pantai Belitung begitu segar dengan pemandangan alam menawan, rasanya sayang bila cuma dinikmati dari balik kaca. Menyewa motor dan berjalan kaki terasa lebih paten buat kami berdua. Sehari penuh kami menghabiskan waktu di Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang. Bagi masyarakat setempat, Tanjung Tinggi merupakan tujuan wisata katagori top destination. Sebuah pantai “bertabur” batu granit yang pernah dijadikan lokasi untuk pariwara sebuah produk sabun mandi. Pasir berwarna putih dengan aksen kerang-kerang laut, air biru nan bening serta susunan bebatuan granit menjulang membuka tayangan visualnya. Disusul sang bintang memanjakan diri di pantai indah itu sembari mencecahkan kaki ke laut serta memercikkan air ke wajahnya. Apa yang kami saksikan di sini, serupa dengan versi televisinya. Bahkan lebih indah, karena di beberapa sudut pantai Tanjung Tinggi, beberapa kumpulan batuan granit menyusun lorong-lorong alam menuju ke laut. Juga membentuk semacam teluk yang terlindung dari riak gelombang. Hingga serasa berada di lagoon kecil atau kolam renang alam. Mengapung tengadah di tengah-tengah “pagar” granit ini menimbulkan sensasi yang menyenangkan. Karena memberikan pengalaman berbeda dibanding berenang di pantai pada umumnya. Sejauh 2 km melangkahkan kaki di atas pasir lembut dari Tanjung Tinggi, sampailah kami pada sebuah pantai lain di Belitung peninsula bagian barat.

Baca juga: Tips memadukan menu dalam nasi box

Namanya Tanjung Kelayang –konon nama “kelayang” diambil dari burung lokal yang dulunya banyak ditemukan di kawasan ini. Meski Tanjung Tinggi begitu indah, kami malahan jatuh cinta pada Tanjung Kelayang. Pasalnya di sini nelayan memarkir perahu mereka dengan cara diikatkan pada tonggak-tonggak kayu. Sebuah pemandangan yang mengingatkan kami pada salah satu sudut kota air Venezia di Italia. Sedang dalam hutan-hutan kecil di belakang bungalow Tanjung Kelayang, terdapat kawanan monyet hitam yang hidup di atas dahan. Sesekali mereka muncul untuk mengambil kelapa langsung dari pohonnya, namun begitu didekati langsung lari menjauh.

Museum Negeri Belitung bisa dijadikan salah satu referensi agar lebih kenal dekat dengan pulau yang diapit Selat Bangka serta Karimata itu. Juga sejarah tentang tambang timah, pendudukan Belanda pada 1812 serta awal mula nama Belitung sebagai “Biliton”. Kami menyambangi museum ini dalam perjalanan menuju pantai terakhir yang beda dibanding kondisi fisik pantai-pantai Belitung pada umumnya, yaitu minus batuan granit. Kami menjumpai pantai landai tanpa adanya barikade bebatuan di garis pantainya. Tersimak begitu landai, dengan tumbuhan dominan cemara laut. Di balik penampilan yang cukup cantik –apalagi saat kami berkunjung ke sana, terlihat sapuan warna matahari tenggelam ditambah hujan gerimis, pantai itu punya nama gagah; Tanjung Berhantu. Demikian jarangnya pantai ini didatangi pengunjung pun nelayan, sampai ada bangkai perahu yang tinggal skeleton saja. Berupa lunas dan beberapa kayu di bagian dasarnya, dengan posisi setengah terendam pasir putih yang lembut.

Deskripsi itu membuat kami teringat akan sesuatu, soal Pulau Belitung sendiri. Apakah tujuan wisata satu ini telah menjadi hal yang terlupakan? Karena bagi kami, “raksasa” granit di tengah lautnya sungguh menawan hati. Babel sendiri, andai bisa diringkas, seperti gadis cantik yang kesepian dan terlupakan. Jadi, saya paham mengapa sohib saya tak bisa melupakan soulmate-nya di Babel yang tinggal kenangan. Yang tersisa baginya adalah lagu “Hilangnya Seorang Gadis” yang diaransemen ulang Erwin Gutawa. Ah, itu soal lain.