Categories
Parenting

Sudah Siapkah Si Kecil Masuk TK? Bag2

Nantinya keterampilan motorik kasar dan halus akan dikembangkan lebih lanjut dalam pendidikan TK. Keterampilan motorik halus anak umumnya berkembang sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di TK. Anak akan bisa menggunting, melipat, memilah warna, menempel, dan lain-lain.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Sementara itu, keterampilan motorik kasar anak akan lebih diarahkan agar anak mampu mengendalikan pergerakannya sendiri dengan seimbang dan lebih lentur. Satu lagi kesiapan fisik yang perlu diperhatikan, yakni toilet training. Sebaiknya memang anak sudah lulus toilet training saat masuk TK. Paling tidak, anak mau bicara atau menyampaikan kebutuhannya pada guru ketika ia ingin pipis atau buang air besar. Namun, jika memang belum lulus, kita perlu menyampaikannya pada pihak sekolah.

Dengan demikian, guru bisa mengantisipasi jika ada “kecelakaan kecil” saat anak pipis atau buang air besar. ¦ Kesiapan kognitif. Untuk mengukur kesiapan kognitif anak, Mama Papa bisa melihatnya dari bagaimana si kecil mampu memahami apa yang dikatakan orang lain dan berkomunikasi secara verbal dengan bahasa yang dipahami orang lain. Artinya, saat anak mengatakan sesuatu, orang lain bisa mengerti dan menangkap maksudnya. Begitu pula dengan kemampuan berkomunikasi secara verbal, sehingga anak dapat segera menyampaikan apa yang ia butuhkan kepada guru.

Kemampuan berbahasa itu penting, sebab anak diharapkan dapat mengikuti ragam aturan dan instruksi yang diberikan guru. Lebih lanjut, anak yang mampu berkomunikasi dengan lancar juga akan memudahkannya menyerap informasi dan pengetahuan yang diberikan oleh guru. Mulai dari doa harian, lagu-lagu, pengenalan huruf dan angka, dan sebagainya.

Anak juga bisa menceritakan apa saja yang ia alami dan rasakan, meski belum runtut benar. Dengan kata lain, anak harus punya kosakata yang cukup untuk anak seusianya. Selain itu, kita perlu memerhatikan kemampuan anak mempertahankan fokus atau atensi saat mengerjakan sesuatu. Umumnya, anak 4 tahun bisa bertahan fokus sekitar 7-8 menit pada aktivitas yang menarik baginya atau maksimal 15 menit pada aktivitas baru.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Categories
Parenting

Memuji Si Kecil Dengan Bijak Bag2

Boleh jadi mungkin kita tak pernah mengungkapkan langsung pada anak, tetapi anak dapat membaca, lo, sikap dan bahasa non-verbal kita tentang dirinya, atau bagaimana betapa bangganya kita membicarakan anak di hadapan orang lain. Di satu sisi, kita berharap pujian itu bisa memotivasi anak agar bersikap lebih baik, tetapi di sisi lain ternyata pujian itu bisa menjadi bumerang baginya, ibarat pedang bermata dua.

Baca juga : tes toefl Jakarta

Psikolog Insan Firdaus menjelaskan, pada saat anak lahir ia membawa gen keturunan dari orangtuanya. Gen tersebut memengaruhi perilaku anak hanya 1 sampai 2 persen saja. “Yang akan memengaruhi terbentuknya kepribadian anak adalah pembelajaran yang ia tangkap dari lingkung an se kitarnya,” papar Insan. Pembelajaran dari lingkungan itu akan disimpan anak ke memorinya, sesuai perkembangan otaknya saat itu.

Pada usia 2 tahun, neuron di otak anak berjumlah sekitar 100 milyar, sehingga pada usia ini anak lebih cepat menyerap apa yang dilihat dan dipelajarinya. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam bertindak dan mengajari si kecil, termasuk soal memberikan pujian padanya. Menginjak usia prasekolah, otak yang bertanggung jawab pada emosi anak sedang berkembang.

Maka kita perlu melatih anak agar emosinya berkembang baik, sehingga kelak ia mampu mengelola emosinya. Memuji anak merupakan hal yang baik untuk dilakukan, serta bisa mendorong tumbuhnya harga diri dan rasa percaya diri anak. “Namun, perilaku memuji harus bersifat rasional, jangan memuji dengan emosional,” jelas Insan. Contohnya, anak mengikuti suatu lomba, lalu kalah. Karena kita khawatir anak sedih atau kecewa, kita pun berkata, “Sebenarnya sih menurut Papa gambarmu lebih bagus lo, daripada yang menang. Seharusnya kamu itu menang.”

Bahkan, sengaja membelikan piala supaya anak tidak sedih berkepanjangan. Memuji pun harus bertujuan, bukan asal memuji anak pintar, cantik, ganteng, anak pa ling hebat, dst. Kalau hanya asal memuji seperti itu, akhirnya pujian hanya menjadi label. Begitu pula pujian yang dilakukan saat anak kecewa atau sedih, bisa jadi itu adalah jurus menghibur ketika kita tak tega melihat anak sedih. Padahal, anak perlu belajar menghadapi perasaan sedih dan kecewa.

Sumber : pascal-edu.com