Categories
Uncategorized

Prenjak, Sebuah Puisi 12 Menit

SEBUAH siang. Sebuah dapur. Ditemani panci yang bergelantungan dan tepung pembuat pizza yang berserakan, Diah, perempuan berambut pendek, menggiring Jarwo, teman kerja lelakinya yang tambun dan masih mengenakan celemek untuk memasak. ”Duduk,” kata Diah (Rosa Winenggar) dengan nada tegas. Jarwo sibuk memprotes karena harus segera membuat adonan pizza. Diah mengajukan persoalan.

Dia butuh duit. Dia akan berjualan korek api. Sebatang 10 ribu rupiah. Jarwo (Yohanes Budyambara) langsung memotong kalimat Diah, seperti umumnya lelaki yang tak sabar mendengarkan perempuan bicara. ”Satu korek api yang dinyalakan, dan kamu boleh melihat vagina saya sampai api padam.” Kini Jarwo menelan ludah. Tawaran diterima. Hanya dalam sekejap api padam.

Jarwo termenung. Dia menambah beberapa helai puluhan ribu untuk mengulang pengalamannya, sementara Diah sebetulnya membutuhkan lebih dari 100 ribu rupiah. Sembari menikmati setiap nyala korek api, Jarwo ngoceh kenapa Diah tidak mencari pacar atau suami sehingga dia bisa dilindungi dalam segala hal, termasuk dalam soal finansial. Diah menjawab dengan nada pendek dan tegas sembari menutup keinginan Jarwo untuk melanjutkan pertanyaan lagi.

Api korek api sudah selesai. Diah mengenakan celana dalamnya, berdiri akan meninggalkan, hingga Jarwo menawarkan hal yang sama. Bedanya, justru Jarwo yang akan membayar jika Diah bersedia melihat penisnya (yang jelas sedang menggelembung naik). Diah, meski ragu, akhirnya menerima tawaran itu. Jarwo menghitung sampai 25, dan hampir selama itu Diah memejamkan mata di bawah meja. Api korek api hampir padam.

Akhirnya Diah membuka matanya perlahan dan menatap penis di hadapannya. Wajahnya berubah menjadi muram. Kita tak menemukan kegairahan, tapi kesedihan. Film karya Wregas Bhanuteja sepanjang 12 menit ini menghebohkan dunia maya karena menjadi film (pendek) Indonesia pertama yang berhasil meraih La Semaine de la Critique Cannes tahun ini. Prenjak sebetulnya sebuah film pendek yang kelabu, meski tetap terselip humor yang menyedihkan.

Vagina dan penis disorot sebagai bagian dari cerita yang membuat para tokoh berkecamuk dengan berbagai perasaan, termasuk rasa lucu sekaligus tak nyaman sekaligus takjub. Tapi bukan itu yang menyebabkan film pendek ini istimewa. Sejak awal Diah digambarkan sebagai perempuan yang tak banyak basa-basi. Dia berbicara dengan tegas, boleh dibilang tanpa emosi, dan itu semua dilakukan karena kebutuhan uang.

Tapi, perlahan, kita melihat raut wajahnya yang berubah. Di bawah meja. Disinari redupnya api korek api. Juga pada menit-menit akhir ketika dia memandikan anak lanangnya yang bertanya ke mana bapaknya, yang hanya dijawab dengan kalimat singkat ”tidak tahu”. Ini semua dimulai dari ide kisah tentang gadis korek api di Alun-alun Yogyakarta pada 1990-an yang nyaris menjadi ”urban legend”. Wregas Bhanuteja mengaku mendapat cerita itu dari kawannya yang bertemu dengan seorang gadis penjual wedang rondhe yang juga menjual korek api dengan harga seribu rupiah per batang.

”Dengan korek api tersebut, teman saya bisa melihat kemaluan sang penjual,” ucap Wregas kepada Tempo. Tapi, setelah Wregas berkeliling ke Alun-alun, penjual itu sudah tak kelihatan. ”Karena rasa penasaran dan visual yang selalu membekas itu, akhirnya saya putuskan membuatnya dalam bentuk film,” ujar Wregas. Sembari merogoh tabungan sebesar Rp 3 juta, saweran kelompok Studio Batu—komunitas seni tempat Wregas berkarya bersama jadilah sebuah tafsir modern dari kisah penjual wedang rondhe itu.

Wregas mengembangkan imajinasinya pada sebuah setting urban Yogyakarta masa kini. Hasilnya, Wregas tak hanya berhasil menangkis sembilan sineas pesaing dalam kompetisi film pendek itu, tapi juga berhasil bercerita dengan sebuah ledakan di dalam ruang sesempit 12 menit. Tema yang diajukan akan mengingatkan kita pada film Siti karya Eddie Cahyono, yang kebetulan sutradara asal Yogyakarta juga. Perempuan yang akan melakukan apa pun demi kehidupan anak. Tapi Wregas mampu memampatkan seluruh kompleksitas kisah perempuan sebagai pekerja dan ibu serta mengatasi kebutuhan anak yang ayahnya ”menghilang” dari segala tanggung jawab.

Gambar dimaksimalkan dengan efektif sebagai ”pencerita utama”, artinya dialog hanya penunjang. Wregas menggunakan dialog sependek dan sepadat mungkin. Tapi kita lebih memperoleh narasi dari gambar-gambar yang berkisah: api yang menyala, wajah yang terkesiap, lantas kemurungan terasa. Juga duit yang bertukar tangan, yang semakin mempertebal kesedihan.

Sungguh yang disampaikan Marine-Paulien Mollaret , kurator film La Semaine de la Critique, memang benar. ”Bhanuteja banishes sordid voyeurism to the benefit of tender and humorous poetry.” Tindakan voyeurism, mengintip, dan kemesuman diperlakukan dengan humor dan sekaligus sebagai puisi (yang muram). Pada usia yang baru 23 tahun dan film pendeknya yang kelima yang sudah mendapatkan sebuah penghargaan prestisius di Festival Film Cannes, Wregas punya masa depan cerah untuk ikut menjadi sineas yang memuluskan jalan Indonesia di arena internasional.

Website : kota-bunga.net