Categories
News

DARAH KAMBING TISNA

LEHER kambing itu diregangkan oleh dua orang. Lalu seseorang mengeluarkan pisau. Dan, sret…, sekali sayat, darah muncrat dari leher. Kambing tersebut kejang-kejang. Urat nadinya putus. Tisna Sanjaya meraup darah yang tersembur dengan tangannya, lalu membuat corat-coret abstrak di kanvas putih yang terhampar di tanah.

Merah pekat darah menjadi cat lukis. Performance art yang disuguhkan Tisna Sanjaya di halaman depan Jogja National Museum (JNM) berjudul Kurban Sembilan Matahari itu sadistis. Meski penyembelihan diiringi selawat, terasa justru menonjolkan kekerasan. Apalagi ketika melihat kambing yang lehernya terputus digotong-gotong agar darah bisa menetes ke atas kanvas putih.

Tiba-tiba juga secara lebai muncul seseorang menggunakan jubah rok ala darwis sufi Turki, lengkap dengan kopiah tingginya, lalu menari berputar-putar seolah-olah mengalami trance. Hujan turun memaksa Tisna berhenti. Sulit mencari benang merah yang menghubungkan karya 72 seniman yang terlibat dalam Art Jog (27 Mei-27 Juni 2016) bertema Universal Influence ini. Apalagi mengaitkan kambing yang disembelih Tisna dengan UFO karya Venzha.

Tisna bicara tentang pengorbanan, karyakarya lain bicara tentang berbagai hal, dari isu perempuan, ilmu pengetahuan, sejarah, hingga kenangan masa kecil. Untuk pertama kali Art Jog, yang biasanya di Taman Budaya Yogyakarta, diselenggarakan di JNM. Bekas kampus Akademi Seni Rupa Indonesia yang meliputi tiga lantai itu dipugar dengan biaya Rp 3,5 miliar.

Tahun ini untuk pertama kali pula Art Jog tak membuat panggilan terbuka bagi seniman yang hendak terlibat. Semua yang berpartisipasi adalah undangan yang telah dipilih kurator. Seperti biasa, facade jadi bagian yang penting dari pergelaran Art Jog. Di depan JNM terdapat sebuah terowongan melingkar berdiameter 2,5 meter menyambut pengunjung. Di terowongan terpasang baling-baling besar yang membuatnya terlihat seperti moncong pesawat. ”Itu baling-baling betulan, masih bisa digunakan,” kata Heri Pemad, Direktur Art Jog yang membuat instalasi blower itu.

Sejumlah karya pernah disajikan di pameran lain sehingga tidak mengejutkan. Karya Hanafi, Davy Linggar, Entang Wiharso, Agan Harahap, dan F.X. Harsono, misalnya. Karya Mark Justiniani menarik. Perupa dari Filipina ini membuat karya instalasi yang memainkan ilusi. Di dalam sebuah kaca diperlihatkan sebuah lorong kereta api bawah tanah yang relnya seolah-olah tiada berujung. Karya ini tingkat presisinya tinggi.

Mark menggunakan teknik ilusi cermin untuk menyuguhkan manipulasi mata. Sejatinya kedalaman boks kaca hanya beberapa sentimeter. Tapi rel itu seolah-olah jauh tak terhingga bagai sumur tanpa dasar. Sutradara Garin Nugroho mencoba menjadi perupa. Ia kagum pada karya Salvador Dali. Garin sering melihat pameran Dali di Eropa. Lalu ia membuat sosok wajah Dali di lantai.

Salah satu mata Dali tertutup. Karya paling menarik di lantai satu adalah Speculative Entertainment No. 1 buatan Uji Handoko alias Hahan. Ia membuat lukisan bergaya lowbrow art di atas kanvas besar. Hahan lalu membuat ruangan sebagaimana ruang lelang. Karya itu ia jual dalam bentuk potongan atau lot berukuran 10 x 10 sentimeter seharga Rp 100 ribu. Ada 1.619 lot dari lukisan berukuran 7,5 x 2,6 meter itu.

”Dengan cara ini, semua orang bisa membeli karya dan menyimpan potongannya,” ujar Hahan. Art Jog kali ini mendapat sponsor utama dari Bank Mandiri. ”Kami bekerja sama dengan Bank Mandiri. Para kolektor yang membeli karya bisa mencicil 12 kali lewat Bank Mandiri. Ini meringankan,” kata Heri Pemad. Tidak tahu apakah sepotong rangka kambing milik Tisna yang telah bersih dari daging dan rencananya menjadi bagian dari lukisan bikinan Tisna tergolong mahal. Dan harus dicicil 12 kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *