Categories
News

Inovasi Jadi Penyelamat

Desas desus tentang merebaknya wabah virus corona di China, mulai terdengar santer di kalangan industri dalam negeri berbasis ekspor sejak awal 2020.

Kendati saat itu Indonesia masih dalam kondisi baik-baik saja, namun Iwan Setiawan Lukminto mulai mempelajari betul apa yang terjadi di Wuhan, China tersebut. Sejak Januari 2020 atau dua bulan sebelum Covid-19 kali pertama dinyatakan masuk Indonesia, CEO PT Sri Rejeki
Isman (Sritex) Tbk itu mulai membaca situasi dengan adanya
locked down di China.
Munculnya wabah di negara itu, ditangkap Sritex dengan langsung memproduksi alat pelindung diri (APD). “Saat itu [Indonesia] masih belum ada apa- apa, tapi kami sudah bergagasan dengan BNPB [Badan Nasional Penanggulangan Bencana] dan kali pertama pada Januari itu kami sudah mengeluarkan APD dengan antivirus dan antiair, kemudian saya sertifi kasikan ke BNPT,” kata Iwan.

Saat Covid-19 makin besar, perusahaan tekstil bermarkas di Sukoharjo mulai dihadapkan pada kesulitan-kesulitan seperti ekspor drop karena semua negara menerapkan locked down.

Negara tujuan ekspor tidak bisa menerima barang sedangkan mengoptimalkan pasar domestik juga tidak mudah karena ada pembatasan mobilitas.

Ekskalasi meningkat saat pemerintah mewajibkan seluruh masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi penularan Covid-19. Tingginya kebutuhan masker ditambah harga yang melambung tinggi menjadi juru penyelamat kedua bagi emiten berkode SRIL ini.

Baca Juga: Rekomendasi Harga Mesin Es Krim

Sritex akhirnya mengeluarkan masker non medis dengan harga terjangkau, bisa dicuci, dan masyarakat bisa memakai. Bulan pertama pandemi, Sritex akhirnya bisa mendistribusikan 60 juta pieces masker karena saat itu kebutuhan masker sangat tinggi.

“Akhirnya [industri] bisa tertolong, dan ada berkahnya karena dari situ lahir tokosritex.
com, toko online kami yang lahir dari pandemi,” tutur Iwan.

Juli 2020, Sritex sempat memunculkan wacana pemutusan hubungan

kerja (PHK) sebanyak 12.000 orang dari total tenaga kerja
saat ini sekitar 40.000 hingga 50.000 orang. “Komite direktur
semuanya sudah oke, tapi saya pemegang hak veto, saya enggak
mau. Ini jalanin dulu.”

Baca Juga : Daftar Harga Oven Gas

Cerita tentang strategi bertahan saat pandemi disampaikan Iwan
saat menjadi narasumber Talkshow Virtual bertema Setahun Covid-19: Siapa Bertahan Melawan Pandemi?, Selasa malam. Hadir pula Direktur SidoMuncul, Irwan Hidayat, yang juga mengisahkan strategi perusahaan jamu itu untuk bertahan selama

pandemi. Apalagi, perusahaan itu juga punya anak usaha yang bergerak di industri perhotelan, industri yang paling terkena imbas pembatasan aktivitas masyarakat.

Dengan banyak pertimbangan, Sido Muncul berani meresmikan Hotel Tentrem Semarang pada 13 Agustus 2020. Irwan menyebut
ada sisi keberuntungan meskipun hotel itu dibuka saat pandemi, ternyata sampai hari ini ternyata masih ramai dikunjungi, tentu dengan penerapan dan inovasi-inovasi baru dari sisi protokol kesehatan.

“Ternyata keputusan membuka hotel di Semarang bukan keputusan salah. Kami hanya ingin bagaimana ekonomi tetap jalan. Kalau hanya wait and see, justru akan lebih parah lagi,” papar Irwan. PHK terhadap
karyawan hotel pun dihindari.

Irwan masih bisa memanfaatkan profit yang sebelumnya diperoleh untuk biaya operasional maupun membayar gaji karyawan saat penjualan turun.

Sedangkan di Sido Muncul, bisnis obat dan jamu dinilai hoki dan cocok dengan situasi pandemi. Namun, pembatasan membuat emiten berkode SIDO ini kesulitan mengamankan produksi dan mendistribusikan produk. “Tapi ternyata semua bisa diatasi dengan online, kami juga punya banyak distributor mesti ekspor terhambat, kami bersyukur penjualan tidak turun dan profit tetap tumbuh.”

Baca Juga : Daftar Harga Mixer Roti

Talkshow Setahun Covid-19:

Siapa Bertahan Melawan Pandemi? setidaknya bisa menarik kesimpulan dua industri telah berhasil membantu pemerintah menjaga stabilitas ekonomi Jateng.
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, bahkan tidak bisa membayangkan jika ada PHK, misalnya, hanya dari dua perusahaan ini.

Namun, Ganjar tak memungkirimasih ada 400 perusahaan laindi Jateng dengan kurang lebih240.000 pekerja yang terkenamasalah ketenagakerjaan. Dengan demikian menjaga hubungan industrial menjadi hal penting. Terlebih bersamaan dengan dengan lahirnya UU Cipta Kerja, Ganjar berupaya keras tidak ada gejolak di kalangan pekerja industri. Revolusi industri 4.0 yang menawarkan sebuah disrupsi justru hadir lebih cepat dengan adanya pandemi. Tidak heran ketika semua panik dengan perubahan.

Maka dia mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Sido Muncul dan Sritex karena cerdas dan bisa membaca situasi sehingga mampu berkontribusimenjaga ekonomi. “Ekonomi kita enggak terlalu jelek, nyungsep juga tidak terlalu banyak.”
Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi 2021, Ganjarmemastikan investasi kembali dibuka lebar. Penanaman modal asing (PMA) kembali di maintenance dengan menghubungi kembali calon investor. Namun, penanaman modal dalam negeri juga punya kesempatan karena saat pandemi,tren PMDN tetap meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *