Categories
Resep

Kreasi Serundeng yang Berbeda, Nikmat Lezat

Mendengar menu serundeng, tentu kita akan teringat pada olahan kelapa parut yang dimasak dengan daging ayam atau sapi. Namun di tangan pasangan Ibu-anak, Ny. Ahadia (56) dan Ela Fauziah (28), serundeng justru diolah menjadi beragam varian. Mulai dari serundeng lele, jambal, hingga tuna

Ide ini timbul melihat banyak olahan serundeng yang terpaku pada gaya lama. Ela pun terinspirasi untuk membuat kreasi serundeng yang berbeda.

“Selain menggunakan bahan daging yang berbeda, kami juga membuat serundeng dalam berbagai level pedas,” jelasnya. Ada 3 pilihan yang ia tawarkan, yakni serundeng santai (tidak pedas), serundeng sedang (pedas sedang), dan serundeng nyolot (sangat pedas).

Baca Juga: Tips Memesan Catering Depok

Ketiga pilihan level pedas itu dibedakan pada jumlah pemakaian cabai merah dan rawit yang dimasukkan ke dalam bumbu serundeng. Jumlahnya bervariasi mulai dari 5, 10, hingga 15 cabai. “Kecuali untuk serundeng jambal, kami hanya menggunakan cabai hijau,” imbuh sang Ibu, Ahadia.

Serundeng berbobot 100 gram di setiap kantor. Beberapa minggu kemudian, mereka mulai membuat varian serundeng yang lainnya.

Daging sapi, lele, dan jambal menjadi varian serundeng selanjutnya. Tentu saja jenis baru ini juga dilengkap level kepedasan yang bisa dipilih sesuai selera. Kini usaha serundengnya meroket dengan kapasitas produksi 100 cup per hari. Anda bisa mendapatkannya di Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya, hingga Bali. Harga per cupnya dijual mulai Rp 15 ribu untuk tuna, Rp 25 ribu untuk lele dan jambal, dan Rp 30 ribu untuk daging sapi.

Di tahun 2013, Ela memiliki ide untuk membuat serundeng unik. Sang Ibu pun merespon dengan membuat serundeng dari ikan tuna. Agar rasa dan teksturnya lebih gurih, ia mencampur tuna dengan suwiran tongkol.

Hasilnya benar-benar enak. Sedangkan kelapa parutnya disangrai lebih dari satu jam di atas api kecil hingga harum dan kering. Aromanya juga wangi karena diperkaya bumbu rempah seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, serai, jahe, lengkuas, dan ketumbar.

Usai beruji coba, Ela pun mencari celah untuk memasarkan serundeng buatan ibunya itu. Berbekal 20 stoples serundeng, ia memberanikan diri mengikuti sebuah bazar tak jauh dari rumahnya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, bulan November 2013 lalu.

Upayanya berjualan membuahkan hasil. Serundeng tuna langsung ludes, begitu juga dengan satu boks kartu nama yang disebarkan selama pameran. Tak lama, pemesanan mulai bermunculan.

Banyak yang menyukai serundeng ini mulai dari kalangan mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan oleh-oleh untuk dibawa ke luar kota. Ela juga tak berhenti berpromosi. Ia dan suaminya membawa kemana-mana serundeng yang awalnya tanpa merek itu ke berbagai perkantoran. Setidaknya setiap hari mereka berhasil menjual 10 cup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *