Categories
Blog

Pantai Babel, Gadis Cantik yang Terlupakan

Menumpangi ‘taksi’, kami menyusur jalanan aspal tepi pantai di mana terlihat nyiur melambai berlatarbelakang laut biru turqouise yang warnanya makin menggelap di kejauhan. Panorama apik ini tersaji dalam perjalanan ke luar kota Tanjungpandan menuju Tanjung Tinggi di bagian utara Belitung, Provinsi Bangka Belitung alias Babel. Jangan bayangkan sebutan taksi tadi ditujukan buat sedan ber-aircon seperti laiknya terdapat di kota-kota besar. Sebutan ini diberikan pada mobil jenis family car yang siap mengantar penumpang dari bandara menuju pantai-pantai indah di seluruh penjuru pulau. Harganya sudah fixed, kisaran Rp 100.000-150.000 per orang, sekali jalan. Tapi sebagai catatan, kami cuma menggunakan jasa taksi ini saat datang di bandara Hananjuddin dan pada waktu kepulangan.

Karena udara pantai-pantai Belitung begitu segar dengan pemandangan alam menawan, rasanya sayang bila cuma dinikmati dari balik kaca. Menyewa motor dan berjalan kaki terasa lebih paten buat kami berdua. Sehari penuh kami menghabiskan waktu di Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang. Bagi masyarakat setempat, Tanjung Tinggi merupakan tujuan wisata katagori top destination. Sebuah pantai “bertabur” batu granit yang pernah dijadikan lokasi untuk pariwara sebuah produk sabun mandi. Pasir berwarna putih dengan aksen kerang-kerang laut, air biru nan bening serta susunan bebatuan granit menjulang membuka tayangan visualnya. Disusul sang bintang memanjakan diri di pantai indah itu sembari mencecahkan kaki ke laut serta memercikkan air ke wajahnya. Apa yang kami saksikan di sini, serupa dengan versi televisinya. Bahkan lebih indah, karena di beberapa sudut pantai Tanjung Tinggi, beberapa kumpulan batuan granit menyusun lorong-lorong alam menuju ke laut. Juga membentuk semacam teluk yang terlindung dari riak gelombang. Hingga serasa berada di lagoon kecil atau kolam renang alam. Mengapung tengadah di tengah-tengah “pagar” granit ini menimbulkan sensasi yang menyenangkan. Karena memberikan pengalaman berbeda dibanding berenang di pantai pada umumnya. Sejauh 2 km melangkahkan kaki di atas pasir lembut dari Tanjung Tinggi, sampailah kami pada sebuah pantai lain di Belitung peninsula bagian barat.

Baca juga: Tips memadukan menu dalam nasi box

Namanya Tanjung Kelayang –konon nama “kelayang” diambil dari burung lokal yang dulunya banyak ditemukan di kawasan ini. Meski Tanjung Tinggi begitu indah, kami malahan jatuh cinta pada Tanjung Kelayang. Pasalnya di sini nelayan memarkir perahu mereka dengan cara diikatkan pada tonggak-tonggak kayu. Sebuah pemandangan yang mengingatkan kami pada salah satu sudut kota air Venezia di Italia. Sedang dalam hutan-hutan kecil di belakang bungalow Tanjung Kelayang, terdapat kawanan monyet hitam yang hidup di atas dahan. Sesekali mereka muncul untuk mengambil kelapa langsung dari pohonnya, namun begitu didekati langsung lari menjauh.

Museum Negeri Belitung bisa dijadikan salah satu referensi agar lebih kenal dekat dengan pulau yang diapit Selat Bangka serta Karimata itu. Juga sejarah tentang tambang timah, pendudukan Belanda pada 1812 serta awal mula nama Belitung sebagai “Biliton”. Kami menyambangi museum ini dalam perjalanan menuju pantai terakhir yang beda dibanding kondisi fisik pantai-pantai Belitung pada umumnya, yaitu minus batuan granit. Kami menjumpai pantai landai tanpa adanya barikade bebatuan di garis pantainya. Tersimak begitu landai, dengan tumbuhan dominan cemara laut. Di balik penampilan yang cukup cantik –apalagi saat kami berkunjung ke sana, terlihat sapuan warna matahari tenggelam ditambah hujan gerimis, pantai itu punya nama gagah; Tanjung Berhantu. Demikian jarangnya pantai ini didatangi pengunjung pun nelayan, sampai ada bangkai perahu yang tinggal skeleton saja. Berupa lunas dan beberapa kayu di bagian dasarnya, dengan posisi setengah terendam pasir putih yang lembut.

Deskripsi itu membuat kami teringat akan sesuatu, soal Pulau Belitung sendiri. Apakah tujuan wisata satu ini telah menjadi hal yang terlupakan? Karena bagi kami, “raksasa” granit di tengah lautnya sungguh menawan hati. Babel sendiri, andai bisa diringkas, seperti gadis cantik yang kesepian dan terlupakan. Jadi, saya paham mengapa sohib saya tak bisa melupakan soulmate-nya di Babel yang tinggal kenangan. Yang tersisa baginya adalah lagu “Hilangnya Seorang Gadis” yang diaransemen ulang Erwin Gutawa. Ah, itu soal lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *