Categories
News

Suku Bunga Acuan Naik Investor Asing Naik

JAKARTA – Bank Indonesia memperketat kebijakan moneter dengan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen. “Dengan kenaikan bunga, imbal hasil pasar keuangan, termasuk Surat Berharga Negara (SBN), tetap menarik sehingga mendorong masuknya modal asing,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo selepas rapat dewan gubernur BI di kantornya, kemarin. Perry mengatakan bunga acuan dinaikkan untuk JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor oleh pemerintah dan dunia usaha terus meningkat. Sepanjang Juli lalu, nilai impor menyentuh US$ 18,27 miliar, angka tertinggi sejak 2008. Kepala BPS, Suhariyanto, memperkirakan nilai impor bakal terus meningkat di semester kedua tahun ini, lantaran kebutuhan bahan baku untuk pembangunan infrastruktur melonjak. Demi menekan defisit perdagangan, Suhariyanto mendukung rencana pemerintah untuk membatasi impor bahan baku dan konsumsi.

Menurut dia, komoditas seperti minyak sawit, bahan baku tekstil, dan pakaian cukup melimpah sehingga tak perlu diimpor. Begitu juga dengan produk turunan besi dan baja. “Sebenarnya ekspor sudah tinggi, tapi impor jauh lebih besar,” kata dia di kantornya, kemarin. BPS mencatat defisit neraca perdagangan melebar dari US$ 1,02 miliar pada Juni menjadi US$ 3,09 miliar pada Juli. Selain impor bahan baku seperti minyak mentah dan peralatan mekanik, pembelian barang konsumsi seperti laptop dan buah-buahan turut mempertinggi angka defisit perdagangan. Melebarnya defisit perdagangan mempersulit upaya pemerintah untuk menekan penggunaan dolar, yang akhirnya menekan nilai tukar rupiah. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan mengendalikan impor dengan memastikan kandungan lokal tinggi pada proyekproyek infrastruktur, seperti yang sedang digarap oleh PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero). Untuk mengendalikan impor barang konsumsi, pemerintah mungkin akan menaikkan bea masuk atau pajak penghasilan impor, serta membatasi masuknya 500 jenis barang. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, mengatakan pengendalian impor memerlukan koordinasi lintas kementerian. Menurut dia, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan sedang menyusun langkah teknis pembatasan impor barang konsumsi ataupun bahan baku. Adapun pengusaha berharap pemerintah teliti dalam menentukan barang apa saja yang dibatasi impor bahan bakunya. Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia, Danang Girindrawardana, khawatir pembatasan impor bahan baku yang tidak ada barang substitusinya di dalam negeri bakal mematikan aktivitas produksi industri. “Harus hati-hati supaya risiko tidak makin membesar,” kata dia. O ANDIIBNU merangsang masuknya modal asing, sejalan dengan upaya pengendalian defisit transaksi berjalan (CAD) dalam batas aman. Menurut dia, keputusan ini dilatarbelakangi oleh ketidakpastian ekonomi global yang semakin meningkat, seiring dengan rencana kenaikan bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate) serta krisis keuangan di Turki.

Sentimen itu menyebabkan nilai tukar rupiah kian tertekan dan kini sudah menembus 14.600 per dolar Amerika. Sebelumnya, Bank Indonesia terus membelanjakan cadangan devisa untuk menahan pelemahan rupiah. Strategi tersebut menggerus cadangan devisa, yang hingga akhir Juli lalu tersisa US$ 118,3 miliar. Meski begitu, kata Perry, posisi cadangan devisa masih cukup baik. “Tidak hanya cukup untuk membiayai impor dan membayar utang luar negeri, tapi juga cukup untuk membiayai capital reversal,” ujar dia. Bank Indonesia dan pemerintah telah menyampaikan rencana untuk menjaga CAD tetap di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pada triwulan II lalu, defisit mencapai US$ 8 miliar atau 3 persen dari PDB. Menurut Perry, saat situasi perekonomian global normal dan investasi portofolio inflow cukup bagus, CAD di bawah 3 persen cukup aman. “Tapi dalam posisi sekarang, kami sepakat untuk menurunkan CAD jauh lebih rendah lagi.” Perry mengatakan, jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, imbal hasil (yield) pasar uang Indonesia masih menarik. Dia menyebutkan kenaikan BI7DRR sebesar 25 basis point (bps) bisa mengkompensasi tingginya risiko yang dihadapi investor. “Sikap kami ke depan masih tetap hawkish (berhati-hati),” kata dia. Perry memastikan likuiditas mencukupi kebutuhan bank.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai kenaikan bunga acuan saat ini mencerminkan posisi BI yang kehabisan opsi untuk menstabilkan rupiah. “Jika bunga acuan tidak naik, dikhawatirkan rupiah makin merosot dan cadangan devisa akan tergerus,” ujar dia. Bhima memperingatkan beban sektor riil bakal semakin berat lantaran bank-bank mulai menaikkan bunga kredit. “Butuh kebijakan susulan untuk mengkompensasi kondisi ini, misalnya dengan relaksasi pajak.” Adapun ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, khawatir investor menilai BI terburu-buru. “Apalagi The Fed ada kemungkinan baru menaikkan bunga bulan depan dan BI bisa jadi terdorong untuk menaikkan bunga kembali,” ucap dia. Piter pun mengingatkan suku bunga yang tinggi bisa berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *